August 01, 2013

Shonengakurosou : Stranger

|Pagi hari…. Ruang makan.. Sarapan|
“bonjour zach..”
“aaa, ma’am, bonjour. Yang lain kemana? ” kataku sambil mencium pipi nenekku (di keluarga ini hanya aku yang menyebutnya ma’am)
“seperti biasa, masih bersembunyi dibalik selimut mereka.” Jawab ma’am sambil tersenyum
Aku hanya mengangguk dan mulai duduk
“kau mau roti selai ?” Tanya ma’am
Aku menggeleng “tak usah, aku hanya mau minum susu lalu pergi mengurus visa ku.” Kataku sambil mengambil segelas susu hangat buatan ma’am.
“ooh begitu, baiklah. Omong omong, bagaimana dengan.. tempat tinggalmu? Kau sudah pikirkan mau tinggal dimana?” pertanyaan yang ma’am lontarkan membuatku sedikit kaget lalu tersedak
“uhuk…” aku terbatuk – batuk karena kaget tersedak
“duh kau ini, makanya minum dengan perlahan” kata ma’am sambil menpuk nepuk punggungku
Aku merasa sedikit baikan karena tepukan dari ma’am
“merci  ma belle ma’am” kataku sambil kembali menghabiskan sisa susu dalam gelas.
“de rien, nah jadi bagaimana soal tempat tinggalmu?” ma’am mengelus lembut rambutku.
5 detik kemudian.. setelah susu sudah habis baru ku jawab pertanyaan ma’am
“um.. aku blmcari. Mungkin nanti aku akan menemukannya sendiri (?).. yaa gampang lah kalau soal tempat tinggal” kataku santai
“ hm.. kalau kau blm menemukan tempat tinggal biar ma’am minta teman ma’am untuk mencarikan tempat tinggal untukmu”
“ah tak usah ma’am aku bisa cari sendiri “ kataku sambil mengedipkan mata pada ma’am
“baiklah kalau begitu, ahiya mau ma’am siapkan supir?”
“non” kataku menggeleng  “aku naik bus saja”
“tapi itu memakan waktu lama” suara ma’am agak bergetar.
“tak apa ma’am.  Tak masalah untuk ku”  katakau sambil tersenyum nakal
“dasar kau ini” gumam ma’am lalu kemudian menyeruput teh nya
“ma’am aku berangkat dulu ya. “ kataku sambil beranjak mendekati ma’am untuk mencium pipinya
“ok. Hati hati di jalan ya. Bon courage” jawab mam sambil mencium pipiku

Lalu aku pergi keluar rumah menuju halte. Aku akan pergi ke kantor imigrasi, menggunakan bus umum. Aku lebih suka naik kendaraan umum.. lebih menantang untukku. 
Sesampainya di halte
Hari ini halte tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang akan pergi bekerja sepertinya.aku membeli tiket lalu duduk disalah satu kursi kosong yang tersisa. Lalu tiba –tiba aku melihat sebuah brosur  yang entah datang darimana terjatuh tepat diatas pangkuanku.
“Shonengakurosou.. asrama umum… wah! Kebetulan”
Ku baca baik – baik keterangan selanjutnya.. lalu.. bus ku datang. Brosur itu Segera ku lipat dan kumasukan kedalam tas, kemudian aku masuk kedalam bus.

|Di dalam bus|
Saat masuk kedalam bus aku segera mencari kursi kosong. Melihat ke kanan dan kiri…
“hm.. ternyata penuh juga.” Pikirku. Hampir setengah menit ku mencari kursi kosong, akhirnya kutemukan juga kursi kosong di bagian ujung belakang bus. Segera ku tempati kursi itu sebelum diambil oleh yang lain.
“aah dapet juga nih bangku” gumamku sambil bersandar pada kursi. Berhubung kursi yg ku dapat ini ada di ujung-samping jendela, jadi sepanjang perjalanan sepertinya aku akan memandang kearah luar terus haha. Itu pikiran awalku tapi… semua berubah saat kusadari aku duduk di sebelah pria aneh. Perhatianku tertuju padanya. Ia memakai sweater hitam yang cukup tebal kurasa. Dan topi hitam, menutupi matanya.
“ Pemandangan yang aneh mengingat ini masih musim panas…” gumamku
“sweater hitam tebal … sungguh aneh, belum lagi ia membawa tas besar yang ia dekap di dadanya.. ini aneh.. dia seperti….” Masih bergumam sambil berfikir
Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku.. dan membuatku sedikit tersentak
“PERAMPOK!!!!” jeritku dalam hati

Seperti yang  sedang gencar diberitakan akhir – akhir ini, salah satu hotel ternama di Paris baru saja kerampokan perhiasan. Hotel CARLTONATION , menjadi tuan rumah untuk pameran perhiasan La Viora.  Dan 2 hari yang lalu sebagian besar  dari perhiasan yang dipamerkan telah raib dibawa rampok. Perampok itu dikabarkan perampok kelas atas karena mereka bisa menembus pengamanan tingkat tinggi La Viora. Ini merupakan perampokan terbesar dalam sejarah di Eropa.

Pikiranku kacau. Ada perasaan takut dan tegang. Ingin teriak pada seluruh penghuni bus kalau yang duduk disampingku ini perampok. Tapi…… kalau aku sampai salah bagaimana? Kalau dia ternyata bukan perampok? Duh.. bagaimana ini. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku sambil menahan rasa takut.

Bus pun masih berjalan. Sudah +/- hamper 25 menit aku berada di dalam bus tapi orang ini masih belum menunjukkan gerak gerik yang mencurigakan.  Ia masih duduk tertunduk sambil mendekap tas besarnya. Jujur saja sejak tadi aku tak sedikitpun menurunkan tingkat kewaspadaan ku pada “terduga” perampok ini.  
“ini orang lehernya gak pegel apa nunduk terus dari tadi?” tanyaku dalam hati.
Tiba tiba… “ciiiiiiiit……..”
Bus berhenti mendadak, seluruh penumpang terdorong kea rah depan. Aku juga, begitupun si pria aneh tadi, dan.. topi pria aneh itu .. TERJATUH!!!! “ah aku bisa melihat wajahnya!!” pikirku. Namun.. sepertinya pria aneh itu memiliki kecepatan diluar rata – rata. Dengan kilatnya, ia ambil topinya dan lanngsung memakainya tanpa bisa ku lihat wajahnya sedikitpun. Dengan menahansedikit rasa kesal aku kembali duduk di kursiku dan tiba – tiba sopir memberikan pengumuman.
“excuze moi, kita tak dapat melanjutkan perjalanan ini. Bus ini sedang mengalami masalah teknis. Kami akan memindahkan kalian ke bus lain atau kalian bisa memilih menggunakan transportasi lain. Sekali lagi kami mohon maaf, dan terima kasih atas perhatiannya.”
Usai penjelasan dari pak sopir para penumpang segera turun, termasuk si pria aneh itu. Dia turun dengan cepat, secepat kilat. Ku coba menyusulnya, menerobos kerumunan penumpang yang lain namun ia sudah menghilang entah kemana.
“sial!” umpat ku kesal.
“itu orang turunan Flash (tokoh marvel) kali ya? Cepet banget ngilangnya.” Gumamku.
Karena ia sudah menghilang, akhirnya aku kembali pada tujuan awalku. Kantor imigrasi. Untungnya bus berhenti tak jauh dari kantor imigrasi yang ku tuju. Aku berjalan santai sambil menikmati cuaca hari ini yang cukup cerah ditemani sedikit semilir angin yang memberikan sedikit kesejukan. Lalu aku berbelok ke dua jalan utama dan akhirnya sampai di depan kantor imigrasi. Lalu aku masuk, menuju kedalam gedung kantor imigrasi, melewati halaman depan kantor ygang di penuhi oleh berbagai macam jenis bunga musim panas.

|Di dalam gedung kantor Imigrasi|
Aku segera masuk kedalam gedung dan langsung bertanya pada resepsionis, dimana aku bisa mengambil visa ku.
“bonjour, excuse moi” sapa ku sambil tersenyum
“bonjour, mademoiselle. Ada yang bisa saya bantu?”
“aku ingin mengambil visaku, dimana bisa ku ambil?”
“oh bailah mari ku antarkan” jawab resepsoinis itu sambilberanjak untuk menunjukkan tempat pengambilan visa.
“aaa merci beaucoup” kataku sambil membungkukkan badan sedikit. Lalu mengikuti nya dari belakang.
Dua menit kemudian, aku sampai di tempat pengambilan visa. Resepsionis yang mengantarku tadi sudah kembali ketempatnya lagi.
“ Hari ini tak cukup ramai.. atau aku yang terlalu cepat? Ah tapi tidak juga sepertinya.” Gumamku. lalu ku lirik jam  yang ada di dinding ruangan.. 11.30 a.m sudah cukup siang….
Ku lemparkan pandangan ke sekitar ruangan. Ruangan ini cukup besar, penuh dengan warna krem – hitam – abu abu. Seperti layaknya kantor kantor yang lain. Ada beberapa lukisan abstrak yang tertempel di tiap – tiap bagian dinding. Ada juga guci antic yang terpajang manis disudut ruangan. Ada beberapa meja dengan para petugas yang sedang sibuk dengan pengambil visa & layar computer masing – masing.  Ada beberapa baris kursi tunggu. Di baris terdepan ada pria dengan kemeja hitam yang sedang sibuk dengan ponselnya, dibaris kedua ada dua orang ibu – ibu yang sedang asyik merumpi. Baris ketiga kosong, dan dibaris ke empat ada seorang ibu yang sudah lanjut usia. Tadinya aku sudah mau menduduki salah sautu kursi di baris ketiga, namun entah kenapa kaki ku bergerak kea rah kursi di samping ibu lanjut usia tersebut.

“excuse moi, bolehkah saya…”
Ibu itu menoleh. Ku lihat wajahnya sangat bersih, cantik dan anggun, matanya indah ada sedikit kerutan di sudut matanya namun ia tetap terlihat cantik, belum pernah ku lihat wanita seperti ini. Bahkan ma’am pun kalah cantik oleh dirinya. Batin ku.

“oui, silahkan” jawabnya sambil tersenyum
“merci beaucoup, madam”
“de rien mademoiselle. Rose Violet, et moi?” katanya sambilmengulurkan tangan tanda pengenalan
“Zachie Prins.  Waw madam, namamu indah sekali, penggabungan dua nama bunga” sambutku sambil menjabat tangannya. Kurasakan tangannya haluus sekali.  Bahkan lebih halus dari tangan ma’am.
“ah itu.. iya kedua orangtuaku dulu.. sangat menyukali bunga rose, dan kebetulan surname ayahku dulu juga Violet jadinya yaah begitu..” jawabnya sambil tersenyum.
“ooh begitu,  ahiya madam mau mengambil visa kemana?”
“aku mau ke brazil, mengunjungi kerabatku. Ada kerabatku disana. Sudah lama kami tak bertemu. Aku rindu padanya.”
“aah iya, saudara jauh ya. Kau pasti sangat rindu padanya. Sudah berapa tahun tak bertemu?”
“sekitar 13 tahun kami tak bertemu…” ia tertunduk “ah sudahlah, sebentar lagi aku pun akan menyusul dirinya. kau sendiri mau kemana?”
“aku.. mau ke jepang. Melanjutkan pendidikan. Madam jangan sedih, kan sebentar lagi mau ketemu dia”
“ahaha kau ini, terdengar seperti anak kecil saja. Jepang ya… disana kau akan menemukan Cita dan Cinta”
“cita dan cinta? Ah madam, kau ini seperti peramal saja”
“tunggu dan lihat saja nanti. Percaya kata kata ku”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Lalu aku memalingkan wajah kea rah yang lain. Lalu aku ingin bertanya lagi padanya
“ma..ma-dam..?” aku terkejut. Ia tak ada disampingku. Ku caridirinya. Kulihat ke kanan kiri depan belakang, dia tak ada. Hanya aja setangkai bungamawar dan setangkai bunga violet. Tiba tiba aku merasa takut.  
“Zachie Prins” seorang petugas memanggil namaku.
Aku menarik nafas lega, setidaknya aku sudahbisa mengambil visa ku dan pergi dari sini. dan tanpa ke sadari, tangaku mengambil keduatangkai bunga tersebut.