Langitpun mampu Untuk Menangis

By Zlindra - June 20, 2012

Dikala itu aku duduk sendirian di sebuah halte di bilangan Jakarta. Menunggu kendaraan umum ke arah rumahku. Saat itu udara dingin menusuk sampai ketulang - tulangku, wajar saja karena hari sudah hampir malam dan sepertinya hujan pun akan turun. Disaat seperti ini aku serasa kembali pada masa dimana aku merasakan rasa sakit yang teramat sangat, kembali melihat perpisahan yang menyakitkan. Dan pada saat ini aku tahu kenangan masa lalu berputar kembali dibenakku.

"papa yang tak pernah memperhatikan anak!! pulang kerja larut malam, pergi sebelum anak bangun! orang tua macam apa kau ini pa?"

PLAK!!! tamparan mendarat di pipi sang istri

"mama enak saja bicara seperti itu! papa kerja banting tulang siang dan malam untuk kebutuhan keluarga kita! mama sendiri tak pernah menjadi ibu yang baik untuk anak anak. setiap minggu selalu  keluar kota terus tak pernah ada dirumah!!"
kejadian itu sudah 2 tahun berlalu namun terkadang sering berputar kembali di benakku. ya.. orang tuaku memang tak pernah akur mereka selalu bertengkar. yang satu menyalahkan yang lainnya. selalu seperti itu setiap kali mereka bertemu. Dan sampai puncaknya malam itu. Saat tamparan mendarat di pipi mama dan mama tak terima. Esok harinya mama langsung pergi ke pengadilan untuk menggugat cerai papa. Alhasil satu bulan kemudian mereka resmi bercerai.
Aku  yang saat itu masih berumur 15 tahun hanya bisa menangis terisak. Belum bisa menerima kenyataan. Tapi lambat laun aku pun bisa menerimanya. Walau terkadang aku masih merasa sedih dan merasa bahwa ini tak adil bagiku.
Aku yang semenjak kecil tak pernah mendapat perhatian penuhdari kedua orang tuaku kini harus melihat mereka berpisah. Aku masih ingin melihat kedua orang tuaku bersama walau mereka tak pernah memperhatikanku, walau aku selalu dinomor sekiakan bagi mereka, walau mereka lebih memperhatikan pekerjaan mereka. Aku masih ingin mereka bersama.


Tiba - tiba kumendengar suara gemericik hujan yang turun membasahi bumi bersama air mataku yang mulai mengalir deras membasahi pipiku yang pada akhirnya menyadarkanku dari bayang bayang masa lalu ku.

Ah pikirku... Ternyata langit pun mampu untuk menagis bersamaku.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments